Ribuan Anak Sekolah di Pangkep Terdeteksi Hipertensi, Alarm Dini Masalah Tekanan Darah di Usia Muda
Temuan 1.547 kasus hipertensi pada anak sekolah di Pangkep lewat program cek kesehatan gratis menjadi peringatan serius bahwa tekanan darah tinggi kini mengintai anak-anak dan perlu dicegah sejak dini.
Hipertensi selama ini identik dengan penyakit orang dewasa, namun temuan terbaru dari Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) menunjukkan realitas yang mengkhawatirkan. Sebanyak 1.547 anak sekolah terindikasi mengalami hipertensi setelah menjalani pemeriksaan tekanan darah di sekolah. Angka ini menegaskan bahwa tekanan darah tinggi bukan lagi masalah usia lanjut, melainkan sudah mulai muncul pada kelompok usia muda.
Dinas Kesehatan Pangkep menyebutkan, skrining kesehatan yang dilakukan di lingkungan sekolah bertujuan untuk mendeteksi lebih awal berbagai penyakit tidak menular, termasuk hipertensi. Kepala Dinas Kesehatan Pangkep, Herlina, S.Kep., M.Kes., menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak usia dini agar masalah kesehatan ini tidak berlanjut hingga dewasa. Menurutnya, deteksi awal memberikan kesempatan lebih besar untuk melakukan intervensi gaya hidup sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Fenomena hipertensi pada anak bukan hanya terjadi di Pangkep. Secara nasional, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyatakan bahwa hipertensi pada anak dan remaja menunjukkan tren yang meningkat. Data yang dirujuk IDAI menunjukkan bahwa sekitar 18â19 persen anak usia sekolah dan remaja di Indonesia memiliki tekanan darah di atas normal, baik dalam kategori hipertensi maupun pra-hipertensi. Angka ini mencerminkan tantangan kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian lebih luas.
Dokter spesialis anak konsultan nefrologi dari IDAI, dr. M. Heru Muryawan, SpA(K), menjelaskan bahwa hipertensi pada anak sering kali tidak disadari karena jarang menimbulkan keluhan yang khas.
âBanyak anak dengan hipertensi tidak menunjukkan gejala yang jelas. Kondisi ini sering baru diketahui saat dilakukan pemeriksaan tekanan darah, seperti dalam program skrining di sekolah,â ujar dr. Heru dalam keterangan edukasi kesehatan yang disampaikan IDAI.
Menurut dr. Heru, penyebab hipertensi pada anak sangat beragam. Pada sebagian anak, tekanan darah tinggi berkaitan dengan gaya hidup, seperti pola makan tinggi garam dan gula, konsumsi makanan ultra-proses, kurang aktivitas fisik, serta kelebihan berat badan atau obesitas. Namun, ada pula hipertensi yang disebabkan oleh kondisi medis tertentu, seperti gangguan ginjal, kelainan hormonal, atau penyakit bawaan.
Perubahan gaya hidup modern dinilai turut berkontribusi pada meningkatnya risiko hipertensi pada anak. Aktivitas fisik yang semakin berkurang, waktu layar yang panjang, serta kebiasaan mengonsumsi makanan instan membuat anak-anak lebih rentan mengalami gangguan metabolik sejak dini. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat berlanjut hingga dewasa dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta pembuluh darah di masa depan.
Pencegahan hipertensi pada anak menjadi kunci utama untuk menekan dampak jangka panjangnya. Orang tua dan sekolah memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan hidup sehat sejak dini, mulai dari menyediakan makanan bergizi seimbang, membatasi asupan garam dan gula, hingga mendorong anak untuk aktif bergerak setiap hari. Aktivitas fisik rutin, minimal 30 hingga 60 menit per hari, dinilai efektif membantu menjaga tekanan darah tetap normal.
Dr. Heru juga menekankan pentingnya pemeriksaan tekanan darah secara berkala pada anak, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti obesitas atau riwayat hipertensi dalam keluarga.
âPemeriksaan tekanan darah sebaiknya menjadi bagian dari pemeriksaan kesehatan rutin anak, bukan hanya saat anak sudah menunjukkan keluhan,â ujarnya.
Program CKG yang dijalankan di Pangkep dinilai sejalan dengan upaya nasional dalam mencegah penyakit tidak menular sejak usia muda. Dengan skrining rutin di sekolah, anak-anak yang terdeteksi memiliki tekanan darah tinggi dapat segera diarahkan untuk mendapatkan pendampingan medis dan edukasi gaya hidup sehat.
Temuan ratusan hingga ribuan kasus hipertensi pada anak sekolah menjadi pengingat bahwa upaya pencegahan harus dimulai lebih awal. Tanpa intervensi yang tepat, hipertensi pada anak berpotensi menjadi masalah kesehatan jangka panjang yang membebani individu, keluarga, dan sistem kesehatan di masa depan.





